Ada sebuah pertanyaan yang agak bodoh. Jika orang ditanya; Mau pilih untung atau rugi? Pastilah dia memilih untung. Memangnya siapa diantara kita yang mau rugi? Apalagi kalau ditanya; Kamu mau bangkrut atau tidak? Hah! Rugi saja tidak mau, apalagi kalau sampai bangkrut. Ya jelas tidaklah. Tapi, tunggu dulu. Kira-kira, mengapa ada orang yang begitu dungunya hingga bersusah payah menyampaikan pertanyaan pilon itu? Ternyata pertanyaan itu memang layak diajukan kepada kita. Karena, meskipun secara konsepsi kita tidak ingin rugi, namun perilaku kita sehari-hari menunjukkan bahwa kita sedang menuju kepada kerugian. Kita yang merasa tidak pernah rugi dalam berbisnis mungkin menyangkalnya. Namun, benarkah demikian?
Adalah Rosululah SAW pada suatu hari, beliau melintasi sebuah kota. Kepada orang-orang dikota itu beliau bertanya; apakah kalian tahu apa artinya untung, rugi, dan bangkrut? Sungguh, itu pertanyaan gampang. Sehingga setiap orang bisa menjawabnya dengan mudah. Namun, tak satupun dari jawaban itu yang memuaskan sang Rosul. Lalu dia berkata : ” Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang dihari ini, lebih baik dari hari kemarin. Mereka yang tidak lebih baik dari hari kemarin, adalah orang-orang yang merugi. Sedangkan jika dihari ini dirinya lebih buruk dari hari kemarin, maka mereka adalah orang-orang yang bangkrut
Jadi untuk menilai apakah kita untung, rugi atau bangkrut caranya sederhana, yaitu; membandingkan hari ini dengan hari kemarin sebagai acuan. Jika kita bisa menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita sungguh menjadi orang yang beruntung itu. Namun, sekiranya kita hanya bisa menjalani hari ini dengan nilai yang setara dengan hari kemarin, maka sesungguhnya kita ini merugi. Apalagi sekiranya dihari ini, perilaku kita, sikap kita, cara berpikir kita lebih buruk dari hari kemarin. Maka, kita masuk kedalam kelompok orang-orang yang bangkrut.
Kita cenderung menggunakan jumlah uang, harta kekayaan, dan kesuksesan dalam karir untuk mengukur untung dan rugi. Hari ini, kita diajak untuk melihat untung dan rugi dengan perspektif lain. Dengan menggunakan KONSEP PERTUMBUHAN. Yaitu, konsep untuk bertumbuh. Terus bertumbuh. Dan terus bertumbuh dari hari kemarin, menuju ke hari ini, dan melanjutkannya ke hari esok. Konsep ini, tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang sedang membangun kesuksesan non-material belaka. Kita yang tengah berfokus kepada kesuksesan material juga bisa menggunakannya sebagai sarana untuk meningkatkan kinerja kapital Kita. Jika Kita mendapatkan seribu rupiah kemarin, Kita mesti mendapatkan lebih dari seribu hari ini. Jika tidak, maka artinya Kita rugi, atau malah bangkrut. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, uang seribu rupiah hari ini nilainya lebih rendah dari seribu rupiah kemarin sebagai konsekuensi dari inflasi. Jadi, hikmah yang diajarkan seribu limaratus tahun lalu ini sungguh sangat relevan dihari ini.
Tapi, memang benar bahwa untuk sesaat kita perlu keluar dari alam materialistik menuju kepada dimensi non-materialistik. Toh, tubuh kita terdiri dari dua bagian penting; fisik dan non-fisik. Komponen fisik dibangun oleh unsur-unsur material. Sedangkan komponen non-fisik disusun oleh unsur-unsur non-material. Oleh karenanya, untuk menjadikan diri kita utuh; kita harus bersedia menembus hal-hal non-material itu.
Dalam perspektif non-fisik, konsep ini mengisyaratkan dua aspek penting. Aspek pertama berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan atau keahlian. Pendek kata, kita ditantang untuk memastikan bahwa pengetahuan kita hari ini lebih banyak atau lebih baik dari hari kemarin. Maknanya? Kita mesti benar-benar menerapkan apa yang biasa kita sebut sebagai LONG LIFE LEARNING PROCESS. Ibu saya yang tidak berbahasa Inggris menasihatkan; Ulah liren diajar. Artinya, ˜jangan pernah berhenti belajar”. Dan itu betul. Sebab, jika kita berhenti belajar, maka pengetahuan kita dihari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Jika demikian, kita tidak termasuk orang yang beruntung.
Aspek kedua berhubungan dengan perilaku, sikap serta tindak-tanduk kita. Aspek ini bisa menjadi lebih penting bobotnya dari yang pertama. Karena, kita sudah tahu bahwa sikap bisa berarti segala-galanya. Orang yang sikapnya buruk, kemampuan belajarnya juga buruk. Sehingga dengan sikap buruk, kita tidak bisa mengadopsi keterampilan dan keahlian yang lebih baik. Seorang karyawan yang bersikap buruk ditempat kerja, tidak akan bersedia untuk mempelajari hal baru. Menangani tugas-tugas tambahan. Atau melatih diri untuk mengasah keahlian. Seorang karyawan yang berpikiran dan berprasangka buruk pun demikian. Apapapun yang dilakukan atasannya, akan dicurigai dan disikapi dengan buruk.
Sebaliknya, orang-orang yang bersikap baik. Berpikir positif. Membuka diri terhadap kritik. Pastilah akan mendapatkan peningkatan bermakna hampir dalam segala hal. Bahkan, sekalipun memang benar bahwa atasannya memperlakukan dia secara tidak adil. Memangnya, kita bisa selalu bersikap positif untuk setiap tindakan buruk yang dilakukan oleh orang lain kepada kita? Memangnya, kita selalu bisa bersikap positif untuk peristiwa-peristiwa menyakitkan yang menimpa kita? Tentu saja bisa. Mengapa? Karena, kita semua mengetahui dan meyakini bahwa dalam setiap peristiwa; ada sisi baik dan ada sisi buruk. Bahkan, kejadian yang baikpun ada sisi buruknya. Sebaliknya, peristiwa buruk selalu ada sisi baiknya. Itulah sebabnya kita mempunyai istilah; ˜dua sisi mata uang”. Mana ada uang yang hanya memiliki satu sisi? Sikap yang baik akan membantu kita untuk selalu menemukan sisi baik dari hal apapun yang kita hadapi.
Sampai disini, jelas sudah bahwa sesungguhnya, Rosulullah mengajari kita tentang sebuah prinsip sederhana, yaitu; MANJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK, DARI HARI KEHARI. Bisakah Kita membayangkan sekiranya kita menjadi lebih baik setiap hari? Tentu pencapaian kita akan semakin baik dari hari ke hari juga.
Tapi tunggu dulu. Pelajaran kita belum selesai. Sebab, kedua aspek non material yang baru saja kita bahas itu baru menyentuh alam duniawi. Bagi kita yang meyakini bahwa selain dunia ini juga ada alam akhirat; tentu tidak cukup jika hanya mementingkan dan memperjuangkan urusan dunia saja. Urusan akhirat sama pentingnya. Sehingga kalimat itu selengkapnya berbunyi; ˜menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari dimata Allah ”. Semakin hari, hati kita semakin bersih. Niat kita semakin tulus. Dan kepatuhan kita kepada kehendak Tuhan menjadi semakin tinggi. Bisakah Kita membayangkan sekiranya dimata Tuhan kita bisa menjadi hamba yang lebih baik setiap hari? Tentu nilai kemanusiaan kita akan semakin meningkat dari hari ke hari juga.
Dan, jika kita ingat doa yang paling sering kita panjatkan. Doa yang berbunyi; Ya Allah, berikanlah kepadaku kesuksesan di Dunia, dan kesuksesan d Aakhirat. Tentu kita juga akan sadar bahwa menjadi lebih baik dalam urusan dunia saja, tidaklah cukup. Mungkin kita untung secara duniawi. Pengetahuan kita semakin bertambah. Keterampilan kita semakin tinggi. Penghasilan kita semakin banyak. Rumah kontrakan diganti menjadi hunian cicilan. Sepeda motor beroda dua berubah menjadi mobil. Dari naik angkot menjadi menyetir mobil sendiri. Tapi, kalau nilai akhirat kita tidak menjadi lebih baik apa artinya? Apalagi jika semua peningkatan dan kenikmatan hidup itu semakin menjauhkan diri kita dari Aturan Allah. Kita untung untuk ukuran dunia, tapi merugi berdasar kriteria Akhirat.
Ini sungguh sesuatu yang sangat menakutkan. Menakutkan, karena hidup didunia ini hanya tinggal beberapa saat. Belum tentu umur kita sampai ke tahun depan. Betapapun berhasilnya kita secara duniawi, kenikmatannya hanya bisa dirasakan sementara. Sedangkan akhirat? Dia abadi. Selamanya. Menakutkan jika hanya sempat mengecap nikmat didunia sesaat. Namun, tidak dapat mengecap nikmat akhirat yang NIKMATNYA SELAMANYA.
Jika nikmat dunia kita bertambah, namun cara kita bertingkah polah semakin buruk; kita benar-benar bangkrut. Hari ini, sudah Tuhan anugerahkan nikmat yang lebih banyak dari hari kemarin. Tapi, hari ini; kita terlenakan dengan kenikmatan itu. Sampai-sampai kita berpikir; ˜ kapan lagi menikmatinya”. Lalu kita mengumbar semua keinginan. Oh, bagaimana sekiranya Tuhan menjadi marah. Marah karena Dia sudah memberi kita nikmat lebih banyak. Namun, bukannya kita menjadi semakin mendekat. Sebaliknya, kita malah menjadi lebih berani menghujat hukum-hukumNya.
Rugi. Bukanlah tentang berapa uang kita yang hilang. Bangkrut. Bukan tentang bisnis yang tumbang. Melainkan tentang gagalnya diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Jadilah. Manusia. Yang beruntung.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi amal sholeh kita semua, amin
Blog ini adalah sedikit ulasan tentang kehidupanku, sedikit ulasan tentang dunia kesehatan yang aku tau, bahkan sedikit ulasan tentang bidang lain yang cukup aku tau. Disini aku memojokkan diriku, menyendiri, merenungi, belajar memahami kehidupan, belajar instropeksi diri, dan berusaha untuk melukis keindahan dalam hatiku. Disini aku menebarkan pesona pada para wanita, pada para pemilik wanita, suami-suami dari para istri penuh pesona.Let's see...
Kamis, 23 Desember 2010
Cara Belajar Islam yang Benar
Assalamualaikum Wr Wb
Bagaimana konsep yang benar dalam belajar agama Islam ? Hal apa saja yang didahulukan untuk dipelajari ?
Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada Ilmu dan pengajarannya. Hal itu bisa kita lihat bahwa ayat-ayat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasul-Nya berkaitan dengan ilmu.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq : 1 – 5)
Ayat-ayat diatas memberikan penjelasan bahwa hendaklah setiap muslim yang menuntut ilmu senantiasa menyadari kehinanaan dirinya dihadapan Allah Sang Pemilik ilmu sehingga tidak menjadikan dirinya takabbur (sombong) atas pengetahuan yang diperoleh karena sesunguhnya semua ilmu yang diketahuinya itu adalah anugrah dari Allah Yang Maha Mulia.
Kemudian hendaklah seorang yang menuntut ilmu itu senantiasa mengaitkan hatinya dengan Allah swt sehingga ilmu yang didapatnya bisa meningkatkan kualitas keimanan didalam dirinya, mengingatkan dirinya akan kebesaran-Nya dan menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya itu adalah amanah yang harus disampaikan kepada orang-orang yang belum mengetahuinya. Hal itu berarti bahwa ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupannya baik di dunia maupun di akherat.
Perintah menuntut ilmu dengan disertai ketertautan hatinya dengan Sang Pemilik Ilmu lebih didahulukan dari perintah-perintah lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa setiap amal ibadah seorang muslim tidaklah banyak memberikan manfaat ketika tidak dibangun atas dasar ilmu. Dengan kata lain bahwa amal mengikuti ilmu. Umar bin Abdul Aziz mengatakan bahwa “Amal yang dilakukan tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dari manfaatnya.”
Dan ilmu yang pertama kali ditanamkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada para sahabatnya adalah ilmu-ilmu tentang pokok-pokok aqidah (keimanan). Ditanamkan didalam diri mereka nilai-nilai tauhid (pengesaan terhadap Allah swt).
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad : 19)
Macam-macam tauhid yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didalam diri para sahabatnya adalah :
1. Tauhid Rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah swt yang menciptakan segala sesuatu, Yang Memberikan Rezeki, Yang Memberikan Manfaat dan Mudharat, Yang Menghidupkan dan Mematikan.
2. Tauhid Uluhiyah yaitu keyakinan bahwa tidak beribadah kepada selain Allah swt atau tidak ada yang patut disembah selain Allah.
3. Tauhid Asma wa Sifat yaitu keyakinan bahwa Allah swt memiliki nama-nama mulia dan seluruh sifat-sifat yang sempurna, bersih dari segala sifat kekurangan. Dan tidaklah sah keimanan seseorang tanpa beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya ini maka Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya :
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al A’raf : 180)
Pengetahuan tentang pokok-pokok aqidah itulah yang terus menerus ditanamkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didalam diri para sahabatnya yang dengannya menjadikan mereka memiliki hubungan yang dekat dengan Allah swt serta menjadikan mereka orang-orang terbaik dalam sejarah kehidupan umat manusia.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran : 110)
Pokok-pokok akidah inilah yang pertama kali harus difahami dengan benar oleh setiap muslim karena jika difahami secara menyimpang maka semua hal yang bersandar kepadanya akan ikut menyimpang pula.
Setelah tertanam ketauhidan yang kuat didalam diri seorang muslim maka ia dituntut pula untuk mengetahui tentang Rasulullah saw dan juga tentang Islam secara baik. Ketiga ilmu itu sering disebut dengan istilah “Ilmu Pokok yang Tiga”. Inilah ilmu-ilmu pertama yang harus difahami seorang muslim.
Adapun ilmu-ilmu berikut yang juga harus diketahui seorang muslim adalah : Ilmu tentang al Qur’an dan sunnah, fikih ibadah, akhlak, fikih muamalah (pergaulan), fikih jual beli, sejarah perjalanan hidup dan perjuangan Rasulullah saw, sejarah islam, da’wah islam dan lainnya. Namun mana yang haus disampaikan terlebih dahulu dari ilmu-ilmu itu maka bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan orang yang menuntut ilmu itu sendiri. Ketika ia adalah seorang pedagang maka fikih jual beli menjadi sesuatu yang harus dikedepankan dalam pengajaran kepadanya setelah akidah baru setelah itu yang lainnya. Ketika dia adalah seorang yang hendak pergi haji maka fikih haji menjadi ilmu yang harus didahulukan dari yang lainnya. Namun tetap semuanya harus dilandasi pemahaman akidah dan yang benar dan kuat
Sigit Pranowo, Lc. al-Hafidz
[eramuslim.com]
Bagaimana konsep yang benar dalam belajar agama Islam ? Hal apa saja yang didahulukan untuk dipelajari ?
Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada Ilmu dan pengajarannya. Hal itu bisa kita lihat bahwa ayat-ayat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasul-Nya berkaitan dengan ilmu.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq : 1 – 5)
Ayat-ayat diatas memberikan penjelasan bahwa hendaklah setiap muslim yang menuntut ilmu senantiasa menyadari kehinanaan dirinya dihadapan Allah Sang Pemilik ilmu sehingga tidak menjadikan dirinya takabbur (sombong) atas pengetahuan yang diperoleh karena sesunguhnya semua ilmu yang diketahuinya itu adalah anugrah dari Allah Yang Maha Mulia.
Kemudian hendaklah seorang yang menuntut ilmu itu senantiasa mengaitkan hatinya dengan Allah swt sehingga ilmu yang didapatnya bisa meningkatkan kualitas keimanan didalam dirinya, mengingatkan dirinya akan kebesaran-Nya dan menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya itu adalah amanah yang harus disampaikan kepada orang-orang yang belum mengetahuinya. Hal itu berarti bahwa ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupannya baik di dunia maupun di akherat.
Perintah menuntut ilmu dengan disertai ketertautan hatinya dengan Sang Pemilik Ilmu lebih didahulukan dari perintah-perintah lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa setiap amal ibadah seorang muslim tidaklah banyak memberikan manfaat ketika tidak dibangun atas dasar ilmu. Dengan kata lain bahwa amal mengikuti ilmu. Umar bin Abdul Aziz mengatakan bahwa “Amal yang dilakukan tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dari manfaatnya.”
Dan ilmu yang pertama kali ditanamkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada para sahabatnya adalah ilmu-ilmu tentang pokok-pokok aqidah (keimanan). Ditanamkan didalam diri mereka nilai-nilai tauhid (pengesaan terhadap Allah swt).
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad : 19)
Macam-macam tauhid yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didalam diri para sahabatnya adalah :
1. Tauhid Rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah swt yang menciptakan segala sesuatu, Yang Memberikan Rezeki, Yang Memberikan Manfaat dan Mudharat, Yang Menghidupkan dan Mematikan.
2. Tauhid Uluhiyah yaitu keyakinan bahwa tidak beribadah kepada selain Allah swt atau tidak ada yang patut disembah selain Allah.
3. Tauhid Asma wa Sifat yaitu keyakinan bahwa Allah swt memiliki nama-nama mulia dan seluruh sifat-sifat yang sempurna, bersih dari segala sifat kekurangan. Dan tidaklah sah keimanan seseorang tanpa beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya ini maka Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya :
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al A’raf : 180)
Pengetahuan tentang pokok-pokok aqidah itulah yang terus menerus ditanamkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didalam diri para sahabatnya yang dengannya menjadikan mereka memiliki hubungan yang dekat dengan Allah swt serta menjadikan mereka orang-orang terbaik dalam sejarah kehidupan umat manusia.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran : 110)
Pokok-pokok akidah inilah yang pertama kali harus difahami dengan benar oleh setiap muslim karena jika difahami secara menyimpang maka semua hal yang bersandar kepadanya akan ikut menyimpang pula.
Setelah tertanam ketauhidan yang kuat didalam diri seorang muslim maka ia dituntut pula untuk mengetahui tentang Rasulullah saw dan juga tentang Islam secara baik. Ketiga ilmu itu sering disebut dengan istilah “Ilmu Pokok yang Tiga”. Inilah ilmu-ilmu pertama yang harus difahami seorang muslim.
Adapun ilmu-ilmu berikut yang juga harus diketahui seorang muslim adalah : Ilmu tentang al Qur’an dan sunnah, fikih ibadah, akhlak, fikih muamalah (pergaulan), fikih jual beli, sejarah perjalanan hidup dan perjuangan Rasulullah saw, sejarah islam, da’wah islam dan lainnya. Namun mana yang haus disampaikan terlebih dahulu dari ilmu-ilmu itu maka bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan orang yang menuntut ilmu itu sendiri. Ketika ia adalah seorang pedagang maka fikih jual beli menjadi sesuatu yang harus dikedepankan dalam pengajaran kepadanya setelah akidah baru setelah itu yang lainnya. Ketika dia adalah seorang yang hendak pergi haji maka fikih haji menjadi ilmu yang harus didahulukan dari yang lainnya. Namun tetap semuanya harus dilandasi pemahaman akidah dan yang benar dan kuat
Sigit Pranowo, Lc. al-Hafidz
[eramuslim.com]
Pagi Beriman Sore Kafir, Sore Beriman Pagi Kafir
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salah satu hadits yang menggambarkan era penuh fitnah di akhir zaman tampaknya sangat sesuai dengan kondisi dunia dewasa ini. Di dalamnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa pada masa itu sulit sekali menemukan orang yang istiqomah. Yang ada ialah orang-orang yang di pagi hari masih beriman kemudian di waktu sore ia menjadi kafir. Demikian pula ada yang di waktu sore beriman namun keesokan hari di waktu pagi ia telah menjadi kafir.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad No. 8493)
Sikap tidak istiqomah kata Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam disebabkan karena orang pada masa itu lebih mengutamakan kepentingan atau kemaslahatan dunia daripada memelihara keutuhan dien-nya (agama) alias imannya. Orang seperti ini telah tenggelam ke dalam faham bahkan ideologi materialisme.
Berdasarkan hadits ini berarti kita dapat simpulkan bahwa seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat atau mengaku muslim haruslah bersikap sangat waspada ketika ia menjalani era penuh fitnah di Akhir Zaman. Ia harus memahami bahwa bentuk pelanggaran terhadap Allah dapat berakibat kepada dua macam akibat. Pertama, ada yang berakibat seseorang menjadi berdosa, namun di mata Allah dosanya itu tidak menyebabkan dirinya keluar dari Islam. Artinya Allah masih tetap mengakui eksistensi iman pelaku dosa tersebut. Ia masih tetap dipandang sebagai seorang muslim atau seorang yang beriman.
Namun yang kedua, ada pula jenis dosa yang tidak saja pelakunya dipandang telah bermaksiat kepada Allah, tetapi bahkan mengakibatkan pelakunya tidak lagi dipandang masih beriman di mata Allah. Artinya perbuatan dosa yang dilakukannya telah membatalkan imannya. Allah menilai pelaku dosa tersebut telah keluar dari Islam alias menjadi kafir. Inilah yang sangat perlu kita khawatirkan. Dan hadits di atas jelas mengindikasikan fenomena ini. Jadi, di era penuh fitnah kita akan dengan mudah melihat adanya orang-orang yang di pagi hari masih beriman, namun karena satu dan lain hal, tiba-tiba di waktu sore ia telah menjadi kafir, copot imannya.
Demikian pula ada mereka yang di waktu sore masih beriman, namun entah apa yang terjadi di malam harinya, tiba-tiba keesokan paginya ia telah menjadi kafir. Di dalam kitabnya berjudul Dhawabith At-Takfir ‘inda Ahlis-Sunnah wa Al-Jama’ah, Mas’ud bin Faisol menguraikan sembilan Pembatal Keimanan yang disepakati oleh para ulama:
# Sombong dan menolak beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, walaupun membenarkan dan mengakui kebenaran Islam
# Syirik dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala
# Membuat perantara dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan meminta pertolongan kepada selain Allah subhaanahu wa ta’ala
# Mendustakan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam atau membenci sesuatu yang beliau bawa walaupun ia melakukannya
# Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu terhadap kekafiran mereka atau membenarkan mazhab (faham/keyakinan) mereka
# Memperolok-olok Allah subhaanahu wa ta’ala, Al-Qur’an, Al-Islam, pahala dan siksa, dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang Nabi ‘alaihimus-salam, baik ketika bergurau ataupun sungguhan
# Membantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang Islam
# Meyakini bahwa ada sebagian orang yang boleh keluar dari ajaran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak wajib mengikuti ajaran beliau
# Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallamsubhaanahu wa ta’ala atau meyakini ada hukum yang lebih baik daripada hukum beliau yang berlandaskan syariat Allah
Kita semua berlindung kepada Allah dari perbuatan dosa, baik yang menyebabkan diri kita dipandang “sekadar” bermaksiat kepada Allah, apalagi yang sampai menyebabkan diri kita tidak lagi dipandang Allah masih merupakan seorang beriman. Na’udzubillahi min dzaalika.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Salah satu hadits yang menggambarkan era penuh fitnah di akhir zaman tampaknya sangat sesuai dengan kondisi dunia dewasa ini. Di dalamnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa pada masa itu sulit sekali menemukan orang yang istiqomah. Yang ada ialah orang-orang yang di pagi hari masih beriman kemudian di waktu sore ia menjadi kafir. Demikian pula ada yang di waktu sore beriman namun keesokan hari di waktu pagi ia telah menjadi kafir.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad No. 8493)
Sikap tidak istiqomah kata Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam disebabkan karena orang pada masa itu lebih mengutamakan kepentingan atau kemaslahatan dunia daripada memelihara keutuhan dien-nya (agama) alias imannya. Orang seperti ini telah tenggelam ke dalam faham bahkan ideologi materialisme.
Berdasarkan hadits ini berarti kita dapat simpulkan bahwa seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat atau mengaku muslim haruslah bersikap sangat waspada ketika ia menjalani era penuh fitnah di Akhir Zaman. Ia harus memahami bahwa bentuk pelanggaran terhadap Allah dapat berakibat kepada dua macam akibat. Pertama, ada yang berakibat seseorang menjadi berdosa, namun di mata Allah dosanya itu tidak menyebabkan dirinya keluar dari Islam. Artinya Allah masih tetap mengakui eksistensi iman pelaku dosa tersebut. Ia masih tetap dipandang sebagai seorang muslim atau seorang yang beriman.
Namun yang kedua, ada pula jenis dosa yang tidak saja pelakunya dipandang telah bermaksiat kepada Allah, tetapi bahkan mengakibatkan pelakunya tidak lagi dipandang masih beriman di mata Allah. Artinya perbuatan dosa yang dilakukannya telah membatalkan imannya. Allah menilai pelaku dosa tersebut telah keluar dari Islam alias menjadi kafir. Inilah yang sangat perlu kita khawatirkan. Dan hadits di atas jelas mengindikasikan fenomena ini. Jadi, di era penuh fitnah kita akan dengan mudah melihat adanya orang-orang yang di pagi hari masih beriman, namun karena satu dan lain hal, tiba-tiba di waktu sore ia telah menjadi kafir, copot imannya.
Demikian pula ada mereka yang di waktu sore masih beriman, namun entah apa yang terjadi di malam harinya, tiba-tiba keesokan paginya ia telah menjadi kafir. Di dalam kitabnya berjudul Dhawabith At-Takfir ‘inda Ahlis-Sunnah wa Al-Jama’ah, Mas’ud bin Faisol menguraikan sembilan Pembatal Keimanan yang disepakati oleh para ulama:
# Sombong dan menolak beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, walaupun membenarkan dan mengakui kebenaran Islam
# Syirik dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala
# Membuat perantara dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan meminta pertolongan kepada selain Allah subhaanahu wa ta’ala
# Mendustakan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam atau membenci sesuatu yang beliau bawa walaupun ia melakukannya
# Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu terhadap kekafiran mereka atau membenarkan mazhab (faham/keyakinan) mereka
# Memperolok-olok Allah subhaanahu wa ta’ala, Al-Qur’an, Al-Islam, pahala dan siksa, dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang Nabi ‘alaihimus-salam, baik ketika bergurau ataupun sungguhan
# Membantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang Islam
# Meyakini bahwa ada sebagian orang yang boleh keluar dari ajaran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak wajib mengikuti ajaran beliau
# Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallamsubhaanahu wa ta’ala atau meyakini ada hukum yang lebih baik daripada hukum beliau yang berlandaskan syariat Allah
Kita semua berlindung kepada Allah dari perbuatan dosa, baik yang menyebabkan diri kita dipandang “sekadar” bermaksiat kepada Allah, apalagi yang sampai menyebabkan diri kita tidak lagi dipandang Allah masih merupakan seorang beriman. Na’udzubillahi min dzaalika.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Langganan:
Postingan (Atom)




